Materi

Sistem SAR Di Indonesia

109Views

NGAWI — Di Indonesia, Search and Rescue (SAR) menjadi tugas pokok dari Badan SAR Nasional (Basarnas) yang bermitra dengan berbagai lembaga nasional dan internasional dalam bidang yang sama.

Disebutkan oleh Basarnas, Sistem SAR di Indonesia diadopsi dari ketentuan yang berlaku bagi seluruh negara yang menjadi anggota IMO (International Maritime Organization) dan ICAO (International Civil Aeronautical Organization).

Dalam penyelenggaraan operasi SAR, terdapat lima komponen SAR yang merupakan bagian dari sistem SAR yang harus dibangun kemampuannya, agar pelayanan jasa SAR dapat dilakukan dengan baik. Komponen-komponen tersebut antara lain:

  1. Organisasi (SAR Organization), merupakan struktur organisasi SAR, meliputi aspek pengerahan unsur, koordinasi, komando dan pengendalian, kewenangan, lingkup penugasan dan tanggung jawab penanganan musibah.
  2. Komunikasi (Communication), sebagai sarana untuk melakukan fungsi deteksi adanya musibah, fungsi komando dan pengendalian operasi dan koordinasi selama operasi SAR.
  3. Fasilitas (SAR Facilities), adalah komponen unsur, peralatan/perlengkapan serta fasilitas pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam operasi/misi SAR.
  4. Pertolongan Darurat (Emergency Cares), adalah penyediaan peralatan atau fasilitas perawatan darurat yang bersifat sementara ditempat kejadian, sampai ketempat penampungan atau tersedianya fasilitas yang memadai.
  5. Dokumentasi (Documentation), berupa pendataan laporan, analisa serta data kemampuan operasi SAR guna kepentingan misi SAR yang akan datang.

Ada tiga tingkatan kedaruratan (emergency phases) yang didefinisikan secara umum, yaitu,

A. Uncertainty Phase (Incerfa)
Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan dengan adanya keraguan mengenai keselamatan jiwa seorang karena diketahui kemungkinan mereka dalam menghadapi kesulitan

B. Alert Phase (Alerfa)
Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran mengenai keselamatan jiwa seseorang karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan yang serius yang mengarah pada kesengsaraan (distress).

C. Distress Phase (Detresfa)
Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan bila bantuan yang cepat sudah dibutuhkan oleh seseorang yang tertimpa musibah karena telah terjadi ancaman serius atau keadaan darurat bahaya. Berarti, dalam suatu operasi SAR informasi musibah bias ditunjukkan tingkat keadaan darurat dan dapat langsung pada tingkat Detresfa yang banyak terjadi.

Lebih detil lagi, Basarnas juga merinci terkait tahapan Penyelenggaraan Operasi SAR ( SAR Stages) menjadi lima tahapan,

  1. Tahap menyadari (awareness stage) : Adalah kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul (saat disadarinya terjadi keadaan darurat/musibah).
  2. Tahap tindak awal (initial action stage) : Adalah tahap seleksi informasi yang diterima, untuk segera dianalisa dan ditetapkan.
  3. Tahap perencanaan (planning stage) : Yaitu saat dilakukan suatu tindakan sebagai tanggapan (respon) terhadap keadaan sebelumnya, antara lain:
    • Search Planning Event (tahap perencanaan pencarian).
    • Search Planning Sequence (urutan perencanaan pencarian).
    • Degree of Searching Planning (tingkatan perencanaan pencarian).
    • Search Planning Computating (perhitungan perencanaan pencarian).
  4. Tahap operasi (operation stage) : Detection Mode/Tracking Mode and Evacuation Mode, yaitu seperti dilakukan operasi pencarian dan pertolongan serta penyelamatan korban secara fisik. Tahap operasi meliputi:
    • Mengadakan briefing kepada SRU.
    • Mengirim/ memberangkatkan fasilitas SAR.
    • Melaksanakan operasi SAR di lokasi kejadian.
    • Melakukan penggantian/ penjadualan SRU di lokasi kejadian
    • Mengikuti jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan survivor (Tracking Mode).
    • Menolong/ menyelamatkan dan mengevakuasi korban (Evacuation Mode), dalam hal ini memberi perawatan gawat darurat pada korban yang membutuhkannya dan membaw korban yang cedera kepada perawatan yang memuaskan (evakuasi).
  5. Tahap pengakhiran (conclusion stage) : Merupakan tahap akhir operasi SAR, meliputi penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko, penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu dapat terjadi, evaluasi hasil kegiatan, mengadaan pemberitaan (Press Release) dan menyerahkan jenasah korban/ survivor kepada yang berhak serta mengembalikan SRU pada instansi induk masing-masing dan pada kelompok masyarakat.

Nah, itulah Sistem SAR Di Indonesia yang bisa kita jadikan patokan sebagai salah satu organisasi yang juga aktif dalam kegiatan-kegiatan serupa serta mendukung adanya misi kemanusiaan ini. Yang pasti, materi ini juga bisa menjadi wawasan bagi peserta GSA. (ach)

RakaSmada
the authorRakaSmada
Rakasmada merupakan akronim dari Pramuka Smadangawi yang mempunyai Ambalan bernama Raden Mas Soerjo – Raden Ajeng Kartini. Guguspdepan RakaSmada adalah 02 079 dan 02 080 yang masuk dalam wilayah Kwartir Ranting Geneng, Kwartir Cabang Ngawi, dan Kwartir Daerah Jawa Timur. Kontak : info@rakasmada.org

Leave a Reply